Scripta manent, verba volant (yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi) *Pepatah Latin*

Subscribe

Selasa, 22 Maret 2016

Demokrasi ala Pesantren

Demokrasi ala Pesantren
Oleh : Alaika Rahmatullah*)

Era kita adalah era ketika segala bentuk aspirasi rakyat sudah bisa disajikan instan. Berbagai keputusan pemerintah sudah dapat kita lihat dengan mudah melalui media – media informasi yang ada. Disinilah kebebasan demokrasi. Tapi di era inilah, maksud dan tujuan yang jelas dari pendapat rakyat atau keputusan pemerintah yang terjadi semakin sulit difahami. Karena faktor dari komplikasi permainan media. Ada yang pro dan kontra. Semakin sulit bagi siapapun untuk menghindar dari silang pendapat atau keputusan yang melahirkan keremang – remangan. Itulah wujud dari demokrasi.

Sejatinya, demokrasi adalah kebebasan intervensi rakyat dan pemerintah. Sistem demokrasi banyak diterapkan di lembaga pendidikan utamanya yang berbau lembaga pendidikan agamis. Seperti pesantren, karena bertujuan untuk menampung kesinkronan siswa dan pengurus dilembaga pendidikan tersebut. Lalu, sejauh manakah kesadaran demokrasi pesantren diterapakan ? banyak sekali yang berkata inilah demokrasi, tapi apakah keputusan yang diambil melalui kelompok intern tanpa melibatkan rakyat dapat disebut demokrasi ? Rakyatlah yang harus bisa berperan. Demokrasi pesantren tak jauh beda dengan demokrasi pancasila, hanya titik perbedaanya berada pada pelibatan rakyat dalam menjadi partisipan.

Demokrasi pancasila mengajarkan sesuatu dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Posisi rakyat sangat berperan penting. Demokrasi pesantren malah sebaliknya, pengurus yang berandil dalam membuat peraturan tanpa melibatkan rakyat. Terlalu kompleks problematika demokrasi yang terjadi di Pesantren, mulai dari yang bersifat eksternal atau internal.

Foto *Doc Pribadi
Tren global masa kini mengancam kemurnian budaya demokrasi ala pesantren. Injeksi budaya barat telah memengaruhi nilai – nilai kesantrian. Karena di zaman zetizen inilah dari orang yang paling awam sampai yang paling ahli, sama-sama ikut berbicara melontarkan opini, gagasan, melakukan kritik, ataupun keluhan, maka selain sulit menghindari ikhtilaf dan kebenaran pada suatu permasalahan. Karena sangat sulit menemukan mana yang benar dan membedakannya dari yang salah. Jadi yang ada bukan soal mana yang bodoh dan mana yang pintar, tapi mana pesantren dan mana yang non pesantren. Sehingga munculah doktrinitas bahwa orang pesantren kalah dengan orang non pesantren. Dan karena itu akan lebih sulit lagi bagi kita untuk mendapati sesuatu yang benar-benar menjadi kesepakatan bersama; muttafaqun ‘alaihi atau konsensus.

Problematika internal yang ada di Pesantren kadang bisa melalui keputusan–keputusan yang tiba-tiba ada tanpa sepengetahuan santri. Disinilah, banyak sekali perlawanan yang terjadi, bahkan ujung-ujungnya dapat merusak mentalitas santri. Sangat ditakuti jika terkesan mendidik santri berbau anarkisme. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam mencetak karakteristik yang beretika.

Berapapun usaha manusia dalam mendistorsi problematika kehidupan. Tak satupun valensi menembus titik ekulibrium fikiran. Acak tak berujung. Abstrak membentang garis geometris. Para nenek moyang manusia telah melewati seleksi alam yang penuh dengan tantangan. Grafik tetap menunjukkan plus minus yang berlonjak naik turun. Itulah kehidupan yang selalu memberikan stabilisasi makhuk ekstraterestrial ataupun intraterestrial. Tak bisa jika sengaja dipaksakan. Karena sebuah social relation membutuhkan feedback yang memang benar - benar nyata. Begitupun social relation di Pesantren yang harus memberikan setengah pengorbanan kita untuk orang lain supaya ketika santri terjun dimasyarakat nanti benar benar menjadi titik tumpu masyarakat.

Fenomena itulah, seakan - akan demokrasi pesantren yang dilaksanakan para kaum bersarung diremehkan dan nyaris tak ada artinya sama sekali. Padahal dibalik demokrasi pesantren ada beberapa faktor plus yang sangat urgen dengan demokrasi pancasila. Keduanya bersatu padu dalam sinkronitas. Pemikiran yang terjadi sekarang ini, pesantrenlah yang memegang peranan penting dalam menyelamatkan para generasi muda Indonesia. Karena tanpa pesantren, akan banyak orang – orang yang tidak paham betul masalah akhlak atau etika beragama baik secara vertikal maupun horizontal.

Apapun itu dan seperti apapun itu, tantangan – tantangan yang mengancam utuhnya demokrasi pesantren harus dibentengi dengan nilai – nilai kesantrian sehingga pengaruh ekstern ataupun intern dapat kita hadapi. Karenanya, bukan hanya Indonesia yang punya ideologi negara, tapi pesantren juga punya ideologi, sebagaimana panca kesadaran santri; kesadaran beragama, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesadaran berilmu, kesadaran bermasyarakat, dan kesadaran berorganisasi. Sudah seyogianya sebagai generasi muda Indonesia harus memegang prinsip-prinsip kehidupan supaya bangsa ini menjadi bangsa yang baik dan berdemokrasi.

*)Penulis adalah siswa aktif SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo
HP 082234265535
Nomor Rekening Bank Mandiri 143 00 1218766 0 atas nama Nur Jannah, S.Pd.I
Share:

3 komentar:

  1. Smoga Bermanfaat ilmux..!! Truslah mnulis di tunggu krya" adk yg lbih dahsyt... Wonderful Alaika Rahmatullah......

    BalasHapus
  2. Kayaknya nyinggung ustad nih

    BalasHapus


Get this widget!

WAKTU

Total Tayangan Halaman

Flag Counter

Flag Counter

Ensiklopedia

Hasil penelusuran

Kontributor

Pengikut

Daftar Blog Saya

Top Comment

Visitors

Flag Counter