Banyak dari kita yang baru pertama kali berkenalan dengan fisika modern mungkin bertanya-tanya, sebenarnya apa itu foton?
Newton pernah mengemukakan bahwa berkas cahaya tak lain adalah aliran corpuscle atau partikel.
Namun
melalui percobaan celah gandanya, Thomas Young mendapati bahwa cahaya
dapat mengalami interferensi sehingga disimpulkan bahwa cahaya adalah
gelombang.
Pada
awal abad ke 20, Albert Einstein menjelaskan efek fotolistrik dengan
memandang cahaya tersusun atas paket-paket energi diskrit (kuanta) yang
sifatnya mirip partikel, sehingga berinteraksi seperti yang
dihipotesiskan oleh Max Planck.
Selanjutnya
pada tahun 1926, istilah foton pertama kali diperkenalkan oleh Gilbert.
N. Lewis, seorang ahli kimia fisika kebangsaan Amerika dalam artikelnya
yang berjudul “The Conservation of Photons”
Ada banyak deskripsi mengenai partikel yang satu ini (Kelak akan kita dapati bahwa, foton bukan sekadar partikel, atau gelombang. Pada kenyataannya, foton adalah foton!). Secara umum, kita mungkin mengenalnya sebagai paket energi diskret (kuantum) gelombang elektromagnetik.
Berikut ini adalah sifat-sifat dasar foton yang telah diketahui:
foton tidak memiliki massa diam, sehingga bisa bergerak dengan laju cahaya c,
foton
memenuhi hubungan E = hν, p = h/λ, dan E = pc. Meskipun tidak memiliki
massa diam, foton memiliki energi dan momentum, sehingga dapat
"bertumbukan" dengan partikel materi lain, contohnya elektron
foton bahkan dapat dipengaruhi oleh gravitasi seperti halnya partikel-partikel penyusun materi.
Kita
dapat pula mendeskripsikan sebuah foton dari sudut pandang kedudukannya
dalam fisika* – foton memperantarai gaya elektromagnetik antara dua
atau lebih partikel yang bermuatan; dalam sudut pandang ini dua muatan
listrik berinteraksi melalui mekanisme "pertukaran" foton. Pada kasus
ini, foton perantara ini adalah foton khayal/virtual yang sebenarnya
hanya ada dalam kerangka matematika rumusan fisika teoretik.
*Kajian
fisika teoretik yang mempelajari interaksi materi dengan medan
elektromagnetik dalam kerangka relativitas khusus dan mekanika kuantum
adalah QED (Quantum electrodynamics). Teori ini lahir dari usaha Paul
Dirac ketika mencoba menjelaskan asal usul spin elektron dengan
memadukan relativitas khusus dan mekanika kuantum. Richard Feynmann,
dalam bukunya berjudul “QED: The Strange Theory of Light and Matter”
amat bersemangat menjelaskan teori yang telah lama digelutinya ini.
Paul Dirac (kiri) dan Richard Feynmann (Kanan). Dua tokoh penting dalam pengembangan teori QED
PARTIKEL ATAU GELOMBANG?
Mungkin
salah satu dari sekian banyak pertanyaan kita mengenai hakekat foton
adalah: jika foton adalah partikel, maka apakah unsur penyusunnya? Jika
kita bayangkan sebuah atom, maka akan kita dapati adanya inti atom
(nukleus) dan elektron yang mengelilinginya. Inti atom tersusun atas
proton dan neutron yang disebut nukleon. Bahkan, saat ini telah
diketahui bahwa proton dan neutron tersusun atas partikel penyusun yang
lebih fundamental lagi yang disebut quark.
Berdasarkan salah satu teori penting fisika modern saat ini yang dikenal sebagai model baku fisika partikel (standard model of particle physics),
partikel tertentu seperti foton dan elektron pada hakikatnya adalah
sedemikian rupa sehingga kita percaya bahwa mereka berupa “titik”
(berdimensi 0) yang sesungguhnya dalam pengertian matematika. Dengan
kata lain, mereka tidak memiliki ukuran fisik, dan mereka tidak dapat
dibelah karena mereka tidak memiliki unsur-unsur penyusun, selain
dirinya sendiri. Partikel seperti ini disebut partikel elementer.
Selanjutnya,
kita sampai pada pertanyaan yang paling sulit dijawab dan
membingungkan. Apakah foton itu partikel atau gelombang? Apakah hakikat
partikelnya lebih nyata daripada hakikat gelombang elektromagnetnya? Disinilah letak paradoksnya. Beberapa percobaan seperti yangmenyangkut
fenomena interferensi dan difraksi, memperlihatkan bahwa radiasi
elektromagnet berinteraksi seperti halnya gelombang; percobaan lain –
misalnya efek fotolistrik yang terkenal itu –memperlihatkan bahwa radiasi elektromagnet berinteraksi layaknya kuantum partikel yang dikenal sebagai foton.
Tentunya,
penjelasan tentang partikel dan gelombang amatlah berbeda. Keduanya
merupakan dua entitas yang berlainan. Pertikel membawa energinya
sendiri. Energi ini terlokalisir di suatu tempat dimana partikel itu
berada, sedangkan energi sebuah gelombang tersebar merata pada seluruh
muka gelombangnya. Sebagai contoh, jika cahaya kita anggap sebagai
partikel saja, maka sulit bagi kita untuk menjelaskan pola interferensi
yang terjadi seperti halnya pada pecobaan celah ganda Young. Sebuah
partikel hanya dapat melewati salah satu celah; sedangkan bagi
gelombang, ia dapat berpisah lalu melewati kedua celah secara bersamaan
untuk kemudian bergabung kembali.
Jika
deskripsi gelombang dan partikel kita pandang valid, maka kita harus
menganggap bahwa cahaya yang dipancarkan sebuah sumber cahaya hanya
merambat sebagai gelombang atau sebagai partikel saja, tidak mungkin
keduanya secara bersamaan. Namun bagaimana caranya sebuah sumber cahaya
mengetahui perilaku cahaya mana (gelombang atau partikel) yang akan ia
pancarkan?
Bayangkan percobaan ini!
Andaikan
kita menempatkan sumber cahaya ditengah, selanjutnya kita susun
peralatan percobaan celah ganda pada salah satu sisi sumber cahaya, dan
peralatan efek fotolistrik pada sisi yang lain. Cahaya yang dipancarkan
menuju celah ganda akan berperilaku sebagai sebuah gelombang, sedangkan
yang menuju pelat logam berperilaku sebagai pertikel. Bagaimana
sumbernya tahu ke arah mana ia memancarkan gelombang dan ke arah mana ia
memancarkan partikel?
Mungkin
alam mempunyai semacam “kode rahasia.” Dengan kode ini jenis percobaan
yang sedang kita lakukan disinyalkan kembali (entah oleh siapa) ke
sumber cahaya sehingga sumber mengetahui apa yang harus ia pancarkan,
partikel cahaya atau gelombang cahaya. Mari kita ulangi kembali
percobaan diatas (dual experiment) kita tentang cahaya ini tapi dengan
menggunakan sumber cahaya yang berasal dari suatu galaksi yang amat
jauh, sehingga sumber tersebut telah merambat menuju kita untuk jangka
waktu yang kurang lebih sama dengan usia jagat raya (15 x 109
tahun). Tentu saja, jenis percobaan yang sedang kita lakukan ini tidak
dapat disinyalkan kembali ke sumbernya karena dalam jangka waktu itu
kita punya banyak waktu untuk mengganti perlatan celah ganda pada meja
laboratorium dengan peralatan efek fotolistrik.
Namun
demikian, kita dapati bahwa cahaya dari galaksi yang amat jauh tersebut
nyatanya dapat menghasilkan interferensi celah ganda dan juga efek
fotolistrik.
DUALITAS PARTIKEL GELOMBANG
Akhirnya
kita sampai pada kesimpulan berikut: Cahaya bukanlah gelombang saja
atau partikel saja; entah bagaimana caranya, cahaya adalah partikel
sekaligus gelombang dan ia hanya memperlihatkan salah satu aspeknya,
bergantung pada jenis percobaan yang kita lakukan. Percobaan
jenis-pertikel (efek fotolistrik) akan memperlihatkan hakikat
partikelnya, sedangkan percobaan jenis-gelombang (interferensi celah
ganda), memperlihatkan aspek gelombangnya.
Meskipun
demikian, kita bukannya gagal mendefinisikan foton sebagai sebuah
partikel saja atau sebuah gelombang saja. Ini hanya masalah keterbatasan
kosakata. Nyatanya, foton memang berperilaku demikian, sehingga seperti
yang telah saya sebutkan diatas, foton bukanlah partikel saja, atau
gelombang saja foton adalah foton.
Sifat
dualisme partikel-gelombang ini nyatanya telah lama menimbulkan dilema
bagi fisikawan dan filsuf. Penjelasan mengenai kedua sifat ini tidak
dapat benar secara keseluruhan karena keterbatasan kosakata dan
pengalaman akal sehat kita. Namun, keduanya harus diterima berlaku
secara serempak agar dapat memberikan deskripsi yang saling melengkapi (complementary principle) mengenai gelombang elektromagnetik.
Sumber
Kenneth S. Krane. Modern Physics Second (2nd) Edition. 1995
Dewi Lestari menyeretmu lebih dalam lagi ke dunia Supernova lewat kepingan terbarunya, Gelombang.
Sebagai natural-born bookworm (or at least self-proclaimed)
yang tak pernah absen membaca sejak bisa mulai merangkai huruf menjadi
kalimat, buku fiksi bagi saya adalah sebuah hiburan, guru, dan terutama
eskapisme. Walau sejujurnya, saya hanya punya dua serial fiksi yang
benar-benar meninggalkan jejak dalam hidup saya. Yang pertama adalah
serial Harry Potter karya J. K. Rowling dan yang kedua adalah serial Supernova
karya Dewi “Dee” Lestari. Keduanya adalah serial yang seakan ikut
“tumbuh” menemani proses saya beranjak dewasa sampai sekarang. Kali ini
saya ingin berbicara tentang Supernova yang masih saya akui
sebagai buku berbahasa Indonesia terfavorit saya. Tidak hanya karena
saya belajar banyak hal darinya, setiap buku Supernova entah kenapa selalu datang di saat yang tepat dan beresonansi pada titik kehidupan yang sedang saya jalani.
Awal perkenalan saya dengan Supernova dimulai dari buku pertama, Supernova: Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh (KPBJ)
yang dirilis tahun 2001 ketika saya masih duduk di bangku SMP. Teman
sekelas saya membawanya ke sekolah lalu saya iseng meminjamnya dan baru
mengetahui jika Dee sang penulis ternyata Dewi Lestari dari trio pop
Rida Sita Dewi yang terkenal di medio 90-an. Sampulnya sekilas
mengingatkan saya pada buku pelajaran fisika dan melihat isinya saya
tercengang dengan banyaknya footnotes berisi istilah-istilah ilmiah dan teori antah berantah yang belum pernah saya baca sebelumnya. Its a little bit off-putting
awalnya karena saya lumayan alergi pada pelajaran IPA tapi toh saya
bosan di kelas dan mulai membacanya. Di rumah, saya menuntaskan buku
pinjaman itu. Jujur, saat itu saya beberapa kali saya melewatkan bagian
perdebatan intelektual Dimas-Reuben dan lebih fokus pada cerita
Diva-Ferre-Rana. KPBJ keluar di tengah berkembangnya computer culture di Indonesia, ketika internet sudah semakin umum, termasuk hal-hal seperti bulletin board, hacker, The Matrix, chat room
dan sebagainya yang menjadi obsesi baru remaja Indonesia, termasuk
saya. Satu hal lagi yang membuat novel ini berkesan adalah penggambaran same-sex relationship di antara Reuben-Dimas yang tidak terjebak pada dinamika cliche dan stereotyping. Satu hal yang cukup personal bagi saya saat itu.
Tak lama KPBJ keluar, muncul sekuelnya yang bertajuk Akar di tahun 2001, namun waktu itu saya sama sekali tidak aware dengan kehadiran buku kedua ini sebelum menonton infotainment
yang mengabarkan kontroversi yang menyelimuti kelahirannya. Waktu itu
saya sama sekali tidak tergerak untuk membaca, apalagi datang ke toko
buku untuk membelinya. Tapi lagi-lagi, universe seperti sengaja
menyuguhkannya di depan mata saya begitu saja. Saya membacanya dua
tahun kemudian, tepatnya tahun 2004. Saat itu saya sedang libur semester
kelas tiga SMA dan menginap di rumah ipar saya. Bosan main game, saya mulai mengecek lemari buku di lantai atas. Ada beberapa novel dan banyak komik Marvel, tapi mata saya tertumbuk pada Akar edisi cetakan pertama dengan simbol ohm masih tertera di sampul. Lagi-lagi out of boredom,
saya mengambilnya dan mulai membaca. Di halaman-halaman awal saya masih
merasa buku ini murni lanjutan buku pertama, sebelum tiba-tiba saya
diperkenalkan dengan tokoh Bodhi dengan segala keunikan dikotomi dan
perjalanan lintas negaranya. Narasi di buku ini berjalan lebih linear
dan tidak ada timbunan istilah rumit sehingga saya menghabiskan buku ini
dalam sekali duduk. Saya terpesona dan menemukan impian baru untuk backpacking (yang belum juga dilakukan sampai saat ini) and basically keinginan untuk keluar dari zona nyaman saya.
Seperti sudah direncanakan, hanya beberapa hari sejak membaca Akar, saya menemukan review tentang Petir, buku ketiga Supernova di sebuah majalah. Hari pertama kembali ke sekolah, saya mampir ke toko buku untuk membeli Petir. Dan lagi-lagi saya tersengat oleh keandalan Dee dalam bercerita. Jika KPBJ adalah perkenalan pertama yang berlangsung acuh tak acuh, maka Akar adalah pertemuan kedua yang memesona, namun baru di Petir akhirnya saya menyadari telah jatuh cinta seutuhnya dengan serial ini. Petir memiliki formula yang sama dengan Akar. Dibuka oleh bab (kepingan) yang berkaitan langsung dengan KPBJ
sebelum kita berfokus pada satu karakter baru, yaitu Elektra, gadis
dengan obsesi pada petir dan memiliki kemampuan menyembuhkan lewat
energi listrik alami pada tubuhnya. Yang menarik, gaya bahasa di Petir
bahkan jauh lebih ringan lagi, penuh humor, dan terasa santai seperti
atmosfer Bandung yang menjadi latar cerita di buku ini. Di titik ini
saya pun baru mengetahui masih akan ada dua buku Supernova lagi yang akan berjudul Partikel dan Gelombang yang memiliki satu tokoh sentral utama, serta Intelegensi Embun Pagi yang akan mempertemukan mereka semua dan menjadi pamungkas cerita.
Selepas Petir, para penggemar Supernova dihadapkan pada penantian panjang yang seakan tanpa akhir untuk menikmati sekuelnya, Partikel. Saya baca Petir ketika sedang belajar serius untuk SPMB, tapi bahkan sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja, Partikel
tidak kunjung datang. Penantian itu terjawab di tahun 2012. Delapan
tahun lamanya. Bayangkan bagaimana riuhnya respons para penikmat Supernova, terutama karena Partikel hadir di era social media,
khususnya Twitter. Antisipasi untuk buku keempat ini hampir tidak bisa
dibendung hingga akhirnya 13 April 2012, jam 4:44 sore, Partikel muncul di toko buku dan hal yang saya pikirkan hari itu adalah secepat mungkin ke toko buku untuk membelinya. It was almost emotional dan saya ingat betul rasanya merinding melihat buku itu langsung di depan mata. Partikel
mengisahkan Zahra, gadis keluarga Muslim dari Bogor dengan mata jeli
yang menangkap hal-hal yang sering luput dari orang awam, secara literal
oleh profesinya sebagai fotografer wild life, maupun hal-hal yang lebih bersifat transcendental. Partikel
adalah buku yang membuat saya bertanya-tanya tentang alam semesta,
konsep agama, dan melihat hal-hal sekitar dengan cara yang berbeda, baik
dengan bantuan enteogen maupun tidak. Personally, Partikel adalah buku Supernova yang paling relate untuk saya, so far.
Dalam sebuah email interview yang saya lakukan bersama Dee tentang Partikel, beliau memberi tahu saya jika fokus berikutnya adalah menyelesaikan Gelombang. Dan karena itu tak mengherankan jika Gelombang bisa hadir dalam waktu yang tak terlalu lama dari Partikel.
Buku kelima ini hadir tanggal 17 Oktober lalu, namun saya baru
membelinya dua hari lalu dan selesai membacanya kemarin. Entah kenapa
saya merasa tak ingin terburu-buru membelinya, namun seperti arus
pasang, saya terseret Gelombang sejak halaman-halaman awal. Saya tahu jika tokoh utama buku ini adalah Alfa dan selalu membayangkannya sebagai seorang geek yang mungkin ada kaitannya dengan fisika dan beragama Hindu (totally random bet, karena
merasa setiap tokoh akan memiliki agama yang berbeda). Saya tak tahu
bagaimana setting cerita buku ini karena saya menghindari spoiler di socmed
dan bahkan sengaja tidak membaca sinopsis di balik sampulnya saat
akhirnya membeli buku ini. Saya ingin mengenal Alfa tanpa pretensi.
Tapi, sejak pertama saya tahu jika Alfa ternyata berdarah Batak tulen,
langsung terbersit pikiran “Oh wait…. jangan bilang kalau
namanya sebenarnya Thomas Alfa Edison…” dan saya secara spontan terkekeh
sendirian karena intuisi saya benar.
Yup, Alfa adalah Thomas Alfa Edison Sagala
yang lebih akrab dipanggil “Ichon”, anak bungsu keluarga Sagala dari
Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung di Samosir, Sumatera Utara yang
dipercaya sebagai asal muasal lahirnya suku Batak dan masih menganut
agama tradisional yang disebut Parmalim. Bermula dari sebuah upacara
pemanggilan roh leluhur, kehidupan Ichon si bocah penggemar serial Kho Ping Hoo
berubah dengan hadirnya mimpi yang sama berulang-ulang dan kehadiran
makhluk gaib misterius bernama Si Jaga Portibi yang seakan mengintainya.
Keanehan tersebut ditangkap oleh dua orang dukun yang ingin
memperebutkan Ichon sebagai murid, menyisakan Ichon di persimpangan
keputusan dan hampir kehilangan nyawanya untuk itu. Insiden yang membuat
keluarga mereka memutuskan merantau ke Jakarta, walau tak lama
setelahnya Ichon pun pergi lebih jauh lagi ke belahan dunia lain sebagai
imigran gelap di Amerika Serikat. Dihantui mimpi buruk yang sama setiap
harinya, Ichon alias Alfa alias Alfie belajar mempertahankan diri
dengan menahan tidur. Dan dengan kecerdasan alami, keuletan, serta waktu
belajar ekstra dari teman-teman sebayanya, ia berhasil mendapat
beasiswa penuh di kampus Ivy League sekaligus selamat dari
kehidupan imigran gelap yang penuh risiko deportasi dan lingkungan yang
dikuasai gang kriminal. Nasib menghempaskan Alfa pada Wall Street, salah
satu surga dan neraka dunia dalam arti sesungguhnya, di mana ia meraih
sukses sebagai hot-shot trader, gitaris berbakat, sekaligus full-blown insomniac di saat yang sama. Tertidur lelap sama artinya dengan meregang nyawa baginya, karena secara tak sadar ia memiliki suicide program
ketika tertidur. Pertemuan dengan seorang gadis luar biasa cantik di
sebuah klub rahasia yang membuatnya terbablas tidur dan nyaris mati,
mempertemukannya dengan Dr. Nicky dan Dr. Colin dari Somniverse, sebuah
pusat kajian yang berfokus pada masalah tidur, mulai dari insomnia,
gangguan tidur, mimpi, hingga lucid dream. Perlahan tabir mulai
terbuka dengan sendirinya, mengantarkan Alfa ke Tibet untuk menemukan
jawaban dari segala mimpinya dan belajar memercayai instingnya sekali
lagi.
Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapat dari buku-buku Supernova, dalam Gelombang, hal itu adalah mekanisme mimpi, lucid dream,
dan kosmologi Batak yang mengagumkan. Gaya penulisan Dee sendiri dalam
buku ini terasa sangat fokus dan seakan tak menyisakan ruang untuk
bernafas. Klimaks terus terbangun dengan intens hingga buku sudah
mencapai ¼ akhir. Bayangkan Inception bertemu dengan Bourne Identity dan Jumper. Unsur fast-paced action
itu yang memaksa saya untuk tidak berhenti membaca sampai larut malam,
bahkan ketika mata ini sudah lelah dan rasa ngantuk mulai menyerang.
Seakan saya bisa merasakan perjuangan Alfa untuk bisa tetap terbangun
dan menghindari tidur. Saking cepatnya, entah kenapa ada sensasi fast-forward yang saya rasakan dalam Gelombang,
yang membedakannya dari buku-buku sebelumnya yang mengajak kita
menikmati perkembangan tokoh utamanya dengan lebih personal. Ada sesuatu
yang membuat saya merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok Alfa
ketika ia dewasa karena ia hanya terfokus pada mimpinya dan emosinya
yang naik-turun. Tidak ada keterikatan dalam level emosional seperti
yang saya alami dengan Elektra dan Zahra.
Gelombang terasa seperti paradoks alfa dan omega. Di satu sisi, secara kronologis Gelombang adalah buku terakhir yang berfokus pada satu tokoh (avatar?) utama dan menjadi kepingan terbesar puzzle yang menjawab banyak pertanyaan tentang universe
yang dibangun Dee. Di buku ini kita diperkenalkan dengan
istilah-istilah seperti Asko, Infiltran, Peretas, dan Sarvara sekaligus
beberapa clue yang membuat kita mulai meraba alur cerita sebetulnya dari saga ini. Di sisi lain, Gelombang pun justru terasa seperti babak awal dari buku-buku sebelumnya. Akar, Petir, Partikel adalah cerita yang sebetulnya bisa berdiri sendiri tanpa adanya bab yang berkaitan dengan KPBJ, namun rasanya sulit untuk benar-benar menikmati Gelombang tanpa pernah membaca buku-buku sebelumnya, terutama mungkin Akar, karena dua tokoh penting dalam Akar kembali muncul dalam Gelombang dalam porsi singkat namun sangat menohok bagi siapa pun yang membaca Supernova dengan khidmat. Gelombang seakan ingin menghempas kita untuk kembali membaca ulang buku-buku sebelumnya demi mengumpulkan remah-remah clue yang tercecer.
Terlepas dari beberapa hal yang mungkin terasa ganjil dan menimbulkan beberapa pertanyaan baru, kita semua tahu jika Gelombang adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. And I can’t hardly wait for it.
Dikutip dari Alexander Kusuma Praja CEO alkupra.wordpress
Hello sobat blogger. disini kami menyediakan contoh MC text, sebagai perangkat pembelajaran saja. bagi yang berminat, silahkan di pelajari. thanks.
By : http://sparkz.com.sg/wp-content/uploads/2015/04/master-of-ceremony.jpg
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Excellentcy,
KH. Moh. Zuhri Zaini as the owner of Nurul Jadid Islamic boarding school
The
honorable Mr. Imam Hari Santosa as the director of Exact Program
And
unforgottable all members ofExcellent
Exact
First of all, let’s thank and
pray to our god Allah SWT, the most merciful and almighty as powerful essence
in all over the universe that has created the world belongs to all mankinds and
he also has given us lot of mercies and blessing until we can gether together
and face to face here in this appourtunity and this beautiful occasion exatcly.
Secondly, we nerver forget to
send the best thank and salutation to our great propeth Muhammad SAW., As the
world’s inspiration and all human’s best example who has brought us from the darkness
into lightness, from stupidity to the cleaverness.
Dear
brother and happy audience,
I
am standing up in front of you all as the master of ceremony, I would like to
bring this agenda of this daily program as follows:
·The first agenda is opening
·The second agenda is speech
·The third agenda is conclusion
·The forth agenda is comment
·The last agenda is closing
Well happy audience, now we step to the first agenda named
opening, let’s open our agenda tonight by reciting “Basmalah’ together, Bismillah.
....... . ..
The second agenda is speeech, it will be delivered by . . . . .
.(speaker) . .. . . . . .I Please you
to come forward thank you, your speech is very nice.
The third agenda isConclusion
The first
Concluder is . . . . ... . .I please
you to come forward.
Thank you for
your conclusion.
The Second
concluder is . . . . ... . .I please
you to come forward
Thank you
very much for your time.
Well happy audience, we have enjoyed agenda by agenda, now we step
tothe last agenda named closing, let’s close our agenda tonight by reading
“alhamdulillah” together. Alhamdulillah. . . . . .
That’s all I can deliver to you all thank you very much and the
last I say. . . . .
Halo sobat blogger. Bagi kalian yang ingin belajar lebih lanjut tentang sistem gerak. Kami menyediakan perangkat belajar SISTEM GERAK berformat ppt.
contoh gambar pembuka :
Oleh : Didik Rahwiniyanto, S.Si
PPt ini karya guru biologi saya, di SMA Nurul Jadid (Terakreditasi-A) Paiton Probolinggo. Bagi kalian (Sobat Blogger) yang berminat silahkan disedot filenya DISINI
Disetiap pertemuan, pasti disitulah ada perpisahan. Selamat hari perpisahan sobat blogger, bagi kawan-kawan iqro' magazine (SMP NJ) lulusan tahun 2014, di sini kami ada master Recollection Iqro' versi pdf. Hal ini bertujuan bagi kalian yang merasa kangen atau apalah :D bisa langsung di unduh lalu dilihat profil temen-temen kalian :D
By : Lutfan Efendi as a pimred IQRO' magazine.
atau buat kalian (para netizen) yang butuh referensi layout buku kenangan atau dikenal "recollection". monggo silahkan dilihat atau di unduh saja.
Bagi yang berminat, langsung saja disedot filenya DISINI