Scripta manent, verba volant (yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi) *Pepatah Latin*

Subscribe

Minggu, 25 Januari 2015

Andai Bulan berkata ..... !

Aku tertawa lalu menangis. Aku menangis kemudian gusar. Aku tidak tahu bagaimana wajahku sesungguhnya nanti pada akhirnya. Sungguh, jika kau melihat bersinar pada malam, itu bukanlah sinarku. Matahari telah memantulkan cahayanya sehingga aku terlihat lembut dimatamu. Tapi jelaslah engkau tidak bias merasakan perasaanku, terlepas dari fisikku yang tak seindah penampakan bola matamu. Dengan jarakku denganmu yang tak seberapa, aku leluasa melihatmu setiap waktu. Dan keterbatasanmu, kau pikir aku hanya ada dimalammu.
Yang ada dalam hatiku adalah kekalutan sama sepertimu. Aku dan matahari. Kalian piker kami bahagia dengan perjalanan panjang yang rasanya tak berujung ini ? melihat kalian berjatuhan, bangkit, menikam, lalu tiba-tiba bersenda gurau, dan entah akhir seperti apa yang kau harapkan.
Jika aku boleh mengeluh pada-Nya, aku letih melihat semua ini.
Hanya karena-Nya aku berjalan dengan hitungan dan mazilah pasti, yang bias kau ukur kapan aku terbit dan tenggelam. Bahkan ketika aku memperlihatkan gerhanaku dan kalian bermunajat pada-Nya, aku sangat tersanjung dengan perlakuan kalian. Tapi sekali ini saja, kau tidak akan bisa mengetahui kapan diriku membelah lagi. Dan kalaupun itu terjadi nanti, aku bahagia. Karena dengan itu perjalananku dengan matahari telah usai.
Habis sudah kefahamanku tentangmu. Dalam kekalutan yang kalian  buat sendiri, kalian justru saling hunus dan mempersalahkan fiman Tuhan. Kalian ingin membayangkan apalah jadinya dunia ini tanpa islam. Hanyalah karena aku melihat bagaimana gedung-gedung itu hancur atas tangamu sendiri, dan manusia segala rupa saling mencuatkan bom, membunuh, mengkhianati saudara, berperilaku egois, tamak, tak bersyukur, sombong, dan licik ? lalu kau sibuk mencari kambing hitam?
Kemudian teringat janjiku pada matahari saat hari nahas itu. Sungguh aku iri pada matahari karena dirinya tak pernah diminta Tuhan membelah seperti diriku. Lalu aku menangis, karena aku malu pada Sang Penciptaku….
Mengapa kalian di bawah sana tidak menenggang perasaanku yang disuruh diam selamanya oleh Tuhan tanpa bisa berkata apapun menyaksikan kebangkrutan jiwa manusia? Tanpa sedikitpun boleh bersuara bahwa segala pengandaian kalian benar benar talah melewati batas?

Seandainya Muhammad tidak pernah diutus dimuka bumi ini. Seandainya timur tengah tidak pernah bersentuhan dengan islam. Seandainya suara-suara adzan tidak dilantunkan.
Mungkin timur tengah tidak akan bergejolak-bergejolak. Mungkin tidak ada perseturuan antara Israel dan Palestina. Mungkin Irak tidak akan bersitegang dengan Iran. Mungkin Kuwait tidak akan diserang saudara dekatnya.
Seiring dengan kekalutanmu, kaulebarkan prasangka ini kepada segala kemungkinan yang kau anggap nyata. Sungguh tak bisa kupercaya.
Mungkin india dan Pakistan tidak akan pernah saling memborbardir. Mungkin Afghanistan tidak akan seberingas itu dengan armada jihadisnya. Mungkin gedung-gedung pencakar langit di negeri itu masih berdiri teguh hingga sekarang.
Hingga akhirnya kebrutalan prasangkamu yang memuncak menjadi sesuatu yang menginginkan diriku dibelah lagi untuk menunjukkan keajaiban, tapi karena kekesalanku telah sampai pada titik nadir. Sungguh aku tertawa getir ketika prasangkamu semakin tak beraturan seperti pasang surut gelombang samudra Atlantik di bawah sana.
Mungkin Pearl Harbor tidak akan dibom. Mungkin Hiroshima di jepang tidak akan pernah diserang nuklir. Mungkin Hitler tidak akan membinasakan jutaan manusia. Mungkin London tidak dibubuhi ledakan  bawah tanah. Mungkin korea tidak akan terbelah menjadi dua saudara saling hunus. Mungkin tirai bamboo tidak akan senantiasa perang dingin dengan negeri-negeri tetangganya. Mungkin bali si Pulau Dewata itu tidak akan tercoreng-moreng wajahnya. Mungkin meksiko, kolumbia, dan sederet negeri di benua amerika itu tidak akan menjadi negeri para mafia dedah. Mungkin Indonesia, negeri indah zamrud khatulistiwa itu tidak akan dipenuhi tikus pengerat uang. Serta segala kemungkinan tanpa batas. Terakhir, mungkinkah jika semua kemungkinan dikepala ini terjadi….
Itu semuacukup membuatku bersujud pada Allah agar membelahku sekali lagi.
Sungguh kalian beruntung, karena Tuhan memilih menyiksaku dengan memintaku menyaksikan kalian saling tuding dan berselisih lebih lama lagi.
******
Aku berbisik padamu pelan, berharap Tuhan tidak mendengarya. Bertanya mengapa ketegangan dan perbedaan diantara kalian senantiasa dirayakan dan digaungkan untuk memperuncing,  bukan untuk saling bertaaruf?Bukankah Muhammad tidak pernah mengajari kalian untuk memerangi orang karena berbeda agama?bukankah yesus tidak pernah mengucap tentang perang suci?seingatku, Musa juga tidak pernah mengajakmu membunuh orang-orang Fir’aun.
Inikah akal-akalan di antara kalian untuk menyenangkan ego dan ketamakan kalian?
Aku juga ingin menyampaikan padamu, diantaramu telah ada yang begitu jumawa mengukuhkan diri melawan Tuhannya. Demi mendapat tepuk tangan dan puji-puja dari sesamanya. Dia menjelma menjadi  bagian dari dirimu, keyakinanmu, kekuatanmu,namun dia sungguh membenci dirinya karena menjadi bagian dari itu. Dia tidak tahu bahwa yang dia bela sungguh bertepuk tangan dan bersorak sorai karena mereka berhasil menancapkan pengkhianat dalam agamamu.
Tapi aku bisa apa?Bukankah aku hanyalah bulan yang dituntut terus berputar. Bulan yang mempunyai wajah delapan fase dalam penglihatanmu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar


Get this widget!

WAKTU

Total Tayangan Halaman

Flag Counter

Flag Counter

Ensiklopedia

Hasil penelusuran

Kontributor

Pengikut

Daftar Blog Saya

Top Comment

Visitors

Flag Counter